top of page

Hustle Culture: Ambisi untuk Memenuhi Tuntutan Hidup



Dunia yang kian hari kian kompetitif membuat budaya gila kerja merebak bersamaan dengan selera fashion dan musik di kalangan anak muda. Standarisasi tinggi yang berlebih lambat laun diciptakan oleh zaman yang kian materialistik. Karenanya, generasi muda yang di pundaknya tergantung beban untuk memperoleh kehidupan layak di masa depan tak jarang jatuh ke dalam jurang kerja keras yang melampaui kapasitas. Masyarakat hari ini kian gencar mencari bagian mana lagi dalam keahliannya yang belum tereksploitasi. 


Paparan gaya hidup gila kerja keras tak pandang kalangan, mahasiswa yang tengah meniti jalan untuk masa depannya juga tak luput terkena paparan. Di masa perkuliahan, katanya “mahasiswa” harus mencari relasi, pengetahuan, keterampilan serta pengalaman guna bekal dunia kerja. Di masa perkuliahan, banyak kita jumpai berbagai mahasiswa dengan tujuan berbeda-beda. Berbagai wadah perhimpunan mahasiswa seperti  organisasi, magang, volunteer dan sebagainya menjadi sasaran yang tepat bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan skill. Nilai kuliah yang tinggi dan prestasi yang gemilang menambah sulut ambisi mahasiswa dalam mencapai visi memiliki kehidupan yang berkecukupan di masa depan.


Pembelajaran di kelas, seringkali tidak cukup untuk menjadi tangga dalam mewujudkan ambisi. Kemajuan teknologi dan sosial media kerap memainkan peran penting dalam budaya kerja ini. Haus akan pengakuan, takut merasa tertinggal, hingga menetapkan standar dalam ambisi tanpa mempertimbangkan kapasitas dan batas kemampuan diri.


“Semua orang proses nya beda-beda, jadi there’s no point in saying ‘oh at this age look at what's in front of you, the people’s in front of you’”. - NIKI.


Tak hanya mahasiswa, budaya “gila kerja” juga trend pada kalangan pekerja. Tuntutan nikah, keperluan hidup yang kian bertambah, dan gaji terhimpit UMR, menambah kepelikan dalam pemikiran. Laksana kerusuhan dan kebisingan yang tak terhenti, kepala terus berpikir cara menyambung hidup.


Lalu, sebenarnya apa itu Hustle Culture? Mengapa orang-orang sibuk berlari demi melewati standarisasi? Oates (1971) dalam Kompasiana.com menjelaskan bahwa hustle culture merupakan gaya hidup yang populer di kalangan milenial yang menganggap bahwa dirinya akan sukses jika banyak bekerja tanpa mementingkan waktu istirahat. Mereka menganggap kesuksesan bisa diraih jika bekerja dan berusaha dengan keras. Nyatanya, usaha yang terlalu keras tidaklah selalu berdampak baik.


Hustle Culture: Solusi Menjadi Siswa Berprestasi?


(Ade Ilhamulloh, memiliki ambisi mengasah skill dan memperluas relasi)

Berbicara tentang bangku perkuliahan berarti membicarakan kemewahan yang tidak semua orang dapat merasakannya. Kemewahan itu kerap digali habis-habisan oleh segelintir orang yang yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang dimilikinya. Sama halnya dengan Ade Ilhamulloh,  salah satu mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, telah memanfaatkan pendidikan yang diperoleh untuk menyusun jenjang karir masa depannya. 


Ade memulai kesibukannya dengan menjadi delegasi Indonesia dalam salah satu pertemuan nasional di Sulawesi Selatan saat kelas 11 SMK. Ade juga mengikuti berbagai seminar dan menjadi MC di berbagai acara. Melihat teman-temannya aktif dan produktif, memunculkan semangat dan gairah Ade untuk terus mengambil berbagai kesempatan yang ada untuk mengembangkan skill, relasi, dan juga pengalaman.


Turn back point-nya itu adalah ketika dipilih menjadi delegasi Indonesia di salah satu pertemuan nasional di Sulawesi Selatan. Waktu itu ngeliat temen-temen nasional yang lain lalu motivasi muncul kayak ‘Okey, I can do this and I can be like them’,” terang Ade.


Ade mendapatkan banyak dampak positif  dari kerja keras yang dilakukannya, mulai dari mendapatkan banyak teman, relasi, pengalaman yang dijadikan langkah awal untuk mengembangkan kemampuannya. Namun, ada kalanya ia juga mendapatkan dampak negatif dari kerja keras tersebut. Ade merasa ia menjadi sangat sibuk hingga tidak memiliki waktu bebas bahkan untuk diri sendiri. Hal ini terkadang membuat Ade merasa stress. Tapi Ade mampu untuk belajar mengatur waktu dan tanggung jawab dari tugas-tugas yang ia emban.


Menanggapi budaya hustle culture, Ade berpesan kepada generasi muda lainnya untuk menyelesaikan hal yang dilakukan sebaik mungkin. Menurut Ade, pemahaman di lapangan tidak kalah penting daripada pemahaman terhadap teori.


“Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil” mungkin itulah sepenggal nasihat yang dapat kita pelajari melalui kisah Ade. Namun, bekerja melampaui batas nyatanya juga merenggut banyak hal dalam hidup kita, salah satunya kehidupan sosial. Karenanya, penting untuk memastikan adanya keseimbangan antara bekerja dan istirahat demi terjaganya kesehatan mental maupun fisik.

 

Pentingnya Manajemen Waktu dalam Totalitas Mendidik

 

Layaknya dua sisi mata uang, hustle culture dapat memberikan dampak positif dan negatif pada kehidupan kita. Negatif ketika kita mengesampingkan kesehatan atau istirahat untuk menyelesaikan pekerjaan. 


(Wildan, guru BK yang gemar memberikan reward kepada siswa-siswinya)

Selama menjadi guru Bimbingan Konseling (BK), Wildan mengalami hustle culture. Demi menumpas stigma bahwa guru kedisiplinan sering dianggap “killer” Wildan menerapkan cara agar siswa-siswi merasa senang dan nyaman kepada Wildan sebagai guru BK. Salah satu hal yang biasa dilakukan Wildan yaitu memberikan reward kepada siswa yang bisa menyelesaikan kuis.


Sebagai guru BK, Wildan melakukan wawancara secara langsung pada 150 anak untuk mengetahui pelajaran dan jurusan yang disukai untuk menentukan jurusan kuliah siswa-siswi. Tidak hanya di sekolah, sebagai guru BK ia pun juga melakukan pekerjaan yang lainnya. Hal ini tentunya mengurangi waktu istirahat.

 

Untuk menyiasati agenda yang padat, Wildan berusaha untuk konsisten mengerjakan tugas sebagai guru hanya ketika di sekolah dan di luar sekolah ia bisa melakukan pekerjaan yang lainnya.


“Hasil dari burn out ya, pertama kapasitasnya segitu. Kedua, lo jadi lebih bisa mengatur pikiran. Jadi gue punya skill buat akhirnya, gimana supaya kita tuh bisa ngebagi part-part job kita juga,” terang Wildan.  


Setiap orang punya kapasitas, setiap orang punya kemampuan. Dan tidak seharusnya setiap orang melakukan pekerjaan di luar kapasitas dan batas kemampuannya. Ini yang selalu diingat dan dipraktikkan oleh Wildan ketika bekerja. Manusia juga butuh dukungan dari orang terdekat, hal ini dapat meminimalisir rasa burn out yang sering dialami oleh generasi muda.

 

Manusia seringkali sadar bahwa ia tengah berada dalam hustle culture ketika sudah merasakan burn out karena berlebihan dalam melakukan sesuatu. Setelah keluar dari zona hustle culture, kita dapat mengetahui bahwasannya kita perlu mengetahui kapasitas dan batas kemampuan kita serta perlunya dukungan dari orang-orang terdekat.

 

Hustle Culture dalam Pandangan Psikologi

 

Banyak faktor yang membuat generasi muda pada zaman ini terpaksa  terlibat dalam hustle culture. Faktor tersebut diantaranya lingkungan keluarga, pertemanan, pendidikan, dan media sosial sehingga menimbulkan adanya tekanan sosial dan finansial dalam diri generasi muda. Faktor-faktor tersebut memberikan dampak negatif pada fisik dan psikis, berupa kelelahan, stress, burn out, hingga memunculkan penyakit kronis.


Melihat beberapa dampak negatif dari budaya “gila kerja” berpengaruh dalam psikis manusia, maka salah satu cara bagi mereka yang merasakan dampak negatif dan ingin keluar dari budaya tersebut dapat berkonsultasi dengan profesional, yaitu psikolog.


Pesan terakhirku untuk mereka yang terpaksa dan tidak bisa keluar dari Hustle Culture ini adalah Jangan ragu, jangan enggan, jangan malu untuk meminta pertolongan. Bicara tentang pertolongan baik dalam hal pekerjaan, ketika kamu mengalami kesulitan dan hambatan jangan malu untuk bertanya, baik juga dalam hal psikismu, bicara bahwa ketika kamu terjebak dalam situasi ini (burn out) dan kamu tahu ini tidak ideal dan mungkin ada ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang sudah kamu rasakan, maka tidak ada salahnya kamu meminta pendampingan profesional untuk mengiringi berjalan di situasi yang mungkin tidak ideal,” jelas Ade Lestari, salah satu ahli psikologis.


Sulit rasanya lepas dari hustle culture di zaman sekarang, khususnya bagi generasi muda. Namun, untuk menjalankankannya kita perlu memperhatikan berbagai hal seperti kesehatan fisik, mental, istirahat yang cukup, olahraga, serta menentukan prioritas dari tugas yang dikerjakan. Terkadang, banyak generasi muda merasa malu untuk meminta pertolongan. Padahal pertolongan dari orang terdekat ataupun profesional mampu meringankan berisiknya kepala dan gelisahnya hati ketika mengalami hustle culture.


“Bekerja keras terlalu lama juga dapat menumpulkan kreativitas. Ia mengatakan bahwa bekerja lebih dari 50 jam per minggu justru menurunkan tingkat kreativitas. Di sisi lain, para pekerja yang memiliki jam kerja lebih panjang juga cenderung mengabaikan keluarga dan kehidupan pribadinya. Padahal, dengan menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman dapat mengurangi tingkat stres akibat pekerjaan. Kebahagiaan dapat meningkatkan kreativitas dan menghasilkan energi positif.” 

-Dr. Jeanne Hoffman, psikolog pada Fakultas Kedokteran University of Washington.  SIGMA TV/Rizki Diva









90 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page