• Aisya

Sampah Industri yang Tidak Berhenti


sumber: forbes.com

Industri tekstil di Tiongkok menghasilkan sekitar 1.84 miliar ton air limbah di tahun 2015, sekitar 10% dari total limbah air dari seluruh industri di Tiongkok. Sekitar 90% air tanah sudah tercemar dan menyebabkan sekitar 320 juta masyarakat Tiongkok tidak memiliki akses terhadap air minum bersih. Salah satu kota di Tiongkok, Shaoxing tercatat bahwa sekitar 83% total limbah air berasal dari industri tersebut. Permasalahan ini masih terus terjadi hingga saat ini. Bahkan, semakin berkembangnya zaman, fast fashion mulai menjadi trend dan lifestyle yang dijalankan anak muda sekarang. Kita anak muda sebagai agen perubahan seharusnya dapat menerapkan gaya hidup yang baik untuk sesama makhluk hidup dan lingkungan hidup tempat kita tinggal. Penggunaan pakaian fast fashion ini akan membuat kita mendukung berjalannya pencemaran lingkungan yang dihasilkan pabrik-pabrik pembuat pakaian tersebut.


Banyak anak muda yang tidak mengerti dampak dari apa yang mereka lakukan dalam mengikuti segala trend yang sedang ramai di masyarakat. Bahkan pasti masih banyak yang belum mengenal fast fashion. Apa itu fast fashion? Ini adalah produksi massal pakaian sekali pakai yang murah. Fast fashion adalah metode desain, manufaktur, dan pemasaran yang berfokus pada produksi pakaian dalam jumlah besar dengan cepat. Produksi garmen menggunakan replikasi tren dan bahan berkualitas rendah untuk menghadirkan gaya yang murah kepada publik. Potongan trendi yang dibuat dengan harga murah ini telah menghasilkan pergerakan di seluruh industri menuju konsumsi dalam jumlah besar. Koleksi baru yang tak terhitung jumlahnya per tahun membuat kami selalu merasa ketinggalan zaman dan mendorong kami untuk terus membeli lebih banyak. Itulah mengapa banyak anak muda yang akhirnya memilih terjun pada fast fashion agar bisa terus mengikuti tren yang selalu berubah dengan cepat.


sumber: vogue.com

Trend fashion bergerak sangat cepat. Kira-kira 50 tahun lalu perempuan hanya memiliki 2 jenis pakaian. Hari ini, perempuan berpakaian berbeda-beda setiap musimnya. Di belahan dunia bagian barat, terdapat 4 musim dan setiap minggu pada 1 musim akan muncul 1 tren fashion yang berarti jika ditotalkan ada 52 tren fashion yang harus diikuti. Dari hal itulah kenapa akhirnya terbentuk pembuatan pakaian secara massive terjadi. Merek fashion berusaha memproduksi secara massal agar masyarakat membeli banyak pakaian menyesuaikan dengan tren fashion. Hal ini mulai berjalan sejak tahun 2000-an pada masa Vogue issue ‘boho chic’, dimana tertera kalimat Bohemien and Chic is the theme analyzed by Vote the Style this week.” yang menunjukkan itulah tren pada minggu itu. Akhirnya, munculah setiap minggunya tren-tren fashion baru dalam masyarakat.


Tren fashion yang banyak dan bervariasi ini tentunya sangat menarik perhatian anak muda. Menjadi muda adalah masa dimana kita mengexplore diri dan fashion adalah salah satu ranah seseorang mengexplore dirinya. Umumnya, dalam perjalanannya ini seseorang akan mudah terbawa arus dan tren fashion dengan fasenya yang cepat ini sering membuat anak muda akhirnya terjatuh pada lifestyle fast fashion tersebut. Anak muda dengan lifestyle fast fashion memiliki kecenderungan untuk cepat membuang pakaian yang dibeli secepat saat memutuskan untuk membeli pakaian baru. Kecepatan membuat keputusan ini terbantu dengan kemasyarakatan yang memuja segala pembaharuan tren fashion. Dengan begitu, seseorang akan merasa tervalidasi saat dia termasuk kekinian karena gaya berpakaiannya yang sesuai dengan tren dan diterima oleh masyarakat. Dari rasa validasi ini akhirnya seseorang akan terus meniru gaya berpakaian mengikuti tren yang kemudian akan menjadi gaya hidupnya.


sumber: openaccessgovernment.org

Penerapan lifestyle fast fashion ini ternyata berdampak cukup besar pada lingkungan. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh produksi massal pakaian tidak bercanda dan memerlukan penanganan yang sangat serius. Produksi massal fast fashion ini memproduksi garmen sebanyak 80 miliar setiap tahunnya dan rata-rata menghasilkan sampah tekstil sebanyak 35 kg baru di Amerika saja. Dari sampah tekstil yang dihasilkan, lingkungan yang paling tercemar adalah perairan. Air limbah beracun yang tidak diobati dari pabrik tekstil dibuang langsung ke sungai. Air limbah mengandung zat beracun seperti timbal, merkuri, dan arsenik, dan lainnya juga mengkontaminasi mencapai laut dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Selain dampak lingkungan, fast fashion mempengaruhi kesehatan konsumen dan pekerja garmen. Bahan kimia berbahaya seperti benzothiazole, yang telah dikaitkan dengan beberapa jenis kanker dan penyakit pernapasan. Kulit kita adalah organ tubuh terbesar, mengenakan pakaian yang dibuat dengan buruk ini dapat berbahaya bagi kesehatan kita. Lalu, adakah hal yang dapat kita lakukan? Tentunya ada. Pilih serat alami atau semi-sintetis, beli lebih sedikit namun dengan kualitas dan daur ulang yang lebih baik, pilih merek berkelanjutan, dan yang mulai ramai sekarang ini adalah banyak orang melakukan thrifting atau membeli pakaian secondhand. Masih ada cara untuk kita berhenti dan beralih dari lifestyle fast fashion yang berdampak buruk ini.


sumber: youtube.com/sigmatvunj

Akhirnya, langkah yang sudah seharusnya kita lakukan adalah meninggalkan gaya hidup fast fashion. Kita, anak muda sebagai agen perubahan harus bisa memilih gaya hidup yang baik serta bersama-sama menggerkkan yang lainnya untuk menjaga lingkungan hidup kita bersama. Setelah mengetahui bagaimana fast fashion muncul dan memberikan dampak yang buruk kepada diri kita dan lingkungan hidup kita, ada baiknya kita mulai menerapkan lifestyle yang lebih baik seperti membeli pakaian dengan serat alami dan dapat didaur ulang atau mulai beralih pada thrifting.

8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua